Selasa, 26 April 2016

Senjakala Humanior 14 Maret 2016 ARTIKEL, ARTIKEL PENDIDIKAN, GENERAL Kabar tak sedap datang dari Jepang. Sebagaimana dilansir www.timeshighereducation.com bahwa pada September 2015 Pemerintah Jepang memerintahkan universitas-universitas di sana menutup fakultas-fakultas ilmu sosial dan humaniora. Dari 60 universitas nasional, 26 di antaranya telah mengonfirmasi akan menutup atau menimbang kembali perintah pemerintah itu. Perintah yang merupakan bagian dari upaya Perdana Menteri Shinzo Abe itu dimaksudkan untuk mempromosikan lebih banyak pendidikan kejuruan “yang lebih baik” dalam mengantisipasi “kebutuhan-kebutuhan masyarakat”. BACA KELANJUTANNYA 4971820999_4d15e64a2b_b Jalan Pintas Pendidikan 8 Maret 2016 ARTIKEL, ARTIKEL PENDIDIKAN Harian Kompas edisi 4 Maret 2016 mewartakan rencana pemerintah meluncurkan program penyetaraan S-2. Program ini untuk mengantar secepatnya 69.000 dosen yang masih bergelar sarjana (S-1) karena pemerintah mempunyai target pada akhir 2017 semua dosen sudah bergelar magister (S-2). Target ini merupakan sebuah revisi karena menurut UU Guru dan Dosen (UU Nomor 14 Tahun 2005), mestinya semua dosen sudah berpendidikan S-2 pada akhir 2015. Namun, rencana ini perlu dikritisi karena membawa banyak konsekuensi yang bermuara pada rusaknya sendi-sendi penting penyelenggaraan pendidikan yang bermutu dan bertanggung jawab di Indonesia. BACA KELANJUTANNYA Chalkboard - Abortion Aborsi Pendidikan 5 Maret 2016 ARTIKEL, ARTIKEL PENDIDIKAN Tahun pembelajaran baru masih beberapa bulan ke depan. Namun, geliat mendapatkan siswa baru telah gencar digerakkan. Bagaimanapun, adanya siswa adalah keniscayaan bagi kehidupan sebuah sekolah. Meski adanya siswa sebuah keniscayaan bagi keberlangsungan sekolah, adalah tragedi apabila demi keberlangsungan hidup sekolah, siswa hanyalah angka. Pada kondisi itu, siswa tak lagi disikapi dan digulati sebagai pribadi. Ia tak lebih sarana untuk menjaga keberlangsungan hidup sekolah. Nasibnya lebih rendah daripada martabat budak: ia cuma sarana tak berjiwa. BACA KELANJUTANNYA invol Involusi Pendidikan Guru 29 Februari 2016 ARTIKEL, ARTIKEL PENDIDIKAN KUALITAS guru merupakan faktor utama penentu keberhasilan fasilitasi pendidikan ialah hal yang tak terbantahkan. Hanya saja, dengan melihat kompetensi profesional dan pedagogis guru dalam hasil Uji Kompetensi Guru (UKG) 2015 dan sebelumnya UKG 2012, cita-cita tentang ketersediaan guru-guru yang sekadar layak untuk mengajar masih `jauh panggang dari api’. BACA KELANJUTANNYA nalar Membangun Tradisi Nalar-Kritis Guru 29 Februari 2016 ARTIKEL, ARTIKEL PENDIDIKAN SUDAH umum diketahui bahwa hasil uji kom petensi guru (UKG) sejak 2012 hingga 2015 bergerak stagnan sebagai pertanda rendahnya mutu guru, baik secara pedagogis maupun akademik. Meskipun di beberapa daerah ada guru yang menonjol dan berprestasi, rerata kualitas guru di Tanah Air masih menyedihkan. Belum lagi, jika hal itu diikuti dengan pengamatan langsung di tingkat sekolah melalui serangkaian pelatihan, sangat terlihat bahwa guru-guru kita kebanyakan ialah `pegawai’ sekolah yang kurang memahami filosofi dasar mengajar dan hanya melihat profesi guru sebagai pekerjaan semata. BACA KELANJUTANNYA perguruan-tinggi Akses Universitas 6 Februari 2016 ARTIKEL, ARTIKEL PENDIDIKAN Bank Dunia sudah lama menyimpulkan adanya korelasi tinggi antara persentase populasi penduduk yang memiliki gelar sarjana dan peningkatan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan (Bank Dunia, 1996). Akses masuk ke universitas seharusnya dibuka secara adil dan merata. Sayangnya, sistem seleksi masuk perguruan tinggi kita masih jauh dari rasa keadilan. Sistem seleksi masuk perguruan tinggi kita bukan saja berlaku tidak adil, melainkan dalam kebijakannya juga memakai pola pikir irasional, membuka peluang ketidakjujuran, dan belum memiliki keberpihakan pada mereka yang tersingkirkan secara ekonomi maupun budaya. BACA KELANJUTANNYA public Komunikasi Pelibatan Publik dalam Pendidikan 1 Februari 2016 ARTIKEL, ARTIKEL PENDIDIKAN Pelibatan publik kini salah satu fenomena paling penting di bidang pendidikan dan kebudayaan di negeri ini. Tiga kejadian ini jadi buktinya. Pertama, pelibatan orangtua siswa dalam dialog dengan pendidik untuk menangkal bibit terorisme sejak dini di sekolah, sebagaimana disampaikan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan pada hari Minggu, 17 Januari 2016. Anies minta agar wali kelas berkomunikasi dengan orangtua untuk bisa mengetahui sejak dini apabila ada gejala-gejala penyimpangan, termasuk kekerasan (seperti terorisme), narkoba, dan pornografi. Kedua, saat terjadi bencana kabut asap tahun lalu, saat Anies banyak berinteraksi langsung dengan kepala sekolah, guru, dan orangtua siswa melalui tatap muka, telepon, dan media sosial. BACA KELANJUTANNYA mskn Akses Pendidikan dan Nasib Orang Miskin 1 Februari 2016 ARTIKEL PENDIDIKAN HASIL temuan badan pendidikan PBB Unicef (2015), menyebutkan hampir setengah dari anggaran pendidikan di negara-negara berpenghasilan rendah, termasuk Indonesia, hanya dinikmati sekitar 10% penduduknya. Hal itu berarti kesempatan mengakses pendidikan bagi anak-anak miskin di negaranegara itu semakin sedikit. Hasil temuan Unicef juga sampai pada kesimpulan bahwa anggaran pendidikan akan lebih banyak dinikmati golongan menengah ke atas. Sekitar 20% murid yang kaya bisa menerima sumber daya umum yang 18 kali lebih banyak jika dibandingkan dengan 20% murid yang miskin. Guna mengantisipasi ketimpangan pendidikan di negaranegara miskin dan berkembang—termasuk Indonesia— UNESCO (2015) menyarankan agar investasi dalam pendidikan didistribusikan secara lebih merata. Dengan kata lain, semua anak didik harus mendapat kemudahan akses, termasuk yang paling mungkin tertinggal: anak miskin maupun yang tinggal di perdesaan, perempuan maupun yang dari kelompok minoritas. BACA KELANJUTANNYA gak-bisa-lepas-dari-handphone Pengajaran Menyelamatkan Kehidupan 30 Januari 2016 ARTIKEL, ARTIKEL PENDIDIKAN Bersama tapi tak berhubungan. Itulah tema salah satu lukisan pada pameran lukisan di Bentara Budaya Yogyakarta, beberapa tahun yang lalu. Lukisan itu memotret peran teknologi dalam kehidupan. Pada lukisan itu digambarkan sekelompok orang duduk bersama. Masing-masing asyik dengan ponselnya. Mereka bersama, tetapi tak saling terhubung. Masing-masing terhubung dengan seseorang atau sesuatu entah di mana. Itu potret teralienasi dalam kebersamaan. Tragis! BACA KELANJUTANNYA 20150322_071023 Politik Guru 30 Januari 2016 ARTIKEL, ARTIKEL PENDIDIKAN, KURIKULUM 2013, SERTIFIKASI GURU Peringatan Hari Guru Nasional 2015 menjadi menarik dibicarakan karena di samping Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan merayakannya sendiri, tanpa bekerja sama dengan Pengurus Besar PGRI sebagaimana biasanya, juga karena Kemdikbud dan Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi mengeluarkan surat edaran senada. Isi surat edaran itu antara lain agar para guru tak mengikuti perayaan hari guru dan ulang tahun yang diselenggarakan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) pada 13 Desember 2015 di Gelora Bung Karno, Jakarta. Kehadiran guru dianggap mengurangi citra guru sebagai pendidik profesional. Organisasi publik (baca: PGRI) diminta tak mengorganisasikan dan memanfaatkan guru untuk berbagai kepentingan politik, tetapi fokus pada peningkatan mutu pendidikan, termasuk peningkatan profesionalisme guru.

6 komentar: